Workflow ada di kepala
Transisi dari era pre-AI ke sekarang belum terdokumentasi. Shot, intake project, research, handoff — semua diturunkan lisan.
Retrospective internal
Empat topik, problem yang sudah kita rasakan, dan solusi yang bisa mulai jalan minggu pertama Q4.
RASYA · ELUX SPACE · Q3 2026
Apa adanya dari catatan retro. Nggak ditambah, nggak dikurangi.
Solusi yang sudah kepikiran sebelum sesi ini.
Bagian untuk didebat hari ini. Lengkap dengan langkah awal dan bobot effort.
Tujuan sesi: keluar dari ruangan ini dengan 4 hal yang benar-benar mulai, bukan 20 hal yang mungkin.
Regenerasi
Supaya orang berikutnya nggak mulai dari nol.
Transisi dari era pre-AI ke sekarang belum terdokumentasi. Shot, intake project, research, handoff — semua diturunkan lisan.
Akun dan password belum punya rumah. Tiap handoff jadi acara berburu kredensial.
Standar Elux belum punya nama. Ritme kerja juga — daily task, jam report, protokol saat stuck.
Pola yang sama di ketiganya: pengetahuan ada, tapi cuma hidup di orangnya.
Arahnya sudah benar. Yang perlu ditambah: urutan eksekusi dan cara mengisinya tanpa menambah beban kerja.
Menjawab problem 01
Effort: Sedang Impact: Tinggi
Satu playbook per workflow, format seragam: Trigger → Input → Steps → Output → Checklist.
Kenapa nggak sekaligus 15: playbook yang nggak pernah dipakai lebih buruk dari nggak ada — bikin orang berhenti percaya dokumentasinya.
Menjawab problem 03
Effort: Rendah Impact: Tinggi
Ubah “feeling” jadi lima kriteria yang bisa dinilai orang lain.
Ini usulan termurah di deck ini dan paling langsung menyerang masalah taste. Rubrik yang sama sekaligus jadi kurikulum intern.
Ini isu keamanan, bukan kerapian. Kredensial klien di doc bersama adalah risiko nyata.
LMS dibangun setelah playbook & rubrik jadi. LMS tanpa konten cuma cangkang kosong.
Fun
Bagian yang paling gampang hilang saat remote dan paling sulit dipaksa.
Catatan retro menyebut tiga hal sekaligus. Solusinya beda-beda, jadi perlu didiagnosis dulu mana yang benar-benar hilang.
Rasa terhubung saat remote. Obatnya: ritual kecil yang rutin.
Ruang bikin sesuatu yang kita mau. Obatnya: waktu yang dilindungi.
Eksplorasi terasa seru. Tapi begitu ada miss dari tim, fun-nya langsung hilang dan vibe-nya berubah tegang — tim mulai jaga-jaga, output ikut jadi aman dan datar.
Kalau yang hilang fun kreatif tapi kita tambah main game bareng — masalahnya nggak selesai. Jenis 03 dibahas paling dalam: tiga slide setelah ini.
Menjawab fun kreatif
Effort: Rendah Impact: Tinggi
Satu slot tetap tiap minggu untuk eksperimen bebas. Jumat 13:00–17:00, tanpa deliverable klien.
Syarat mati: slot ini harus dilindungi seperti meeting klien. Kalau tiap ada deadline dikorbankan, tiga minggu lagi hilang sendiri.
Untuk jenis 01 — rasa terhubung saat remote.
Remote punya batas. Ada hal yang memang cuma jalan saat ketemu langsung.
Dua pertanyaan di akhir sprint: skor 1–5 “seberapa menyenangkan minggu ini” + satu kalimat kenapa.
Lima detik untuk diisi, tapi jadi data tren. Tanpa ini kita cuma menebak apakah fun-nya membaik.
Taruhan tinggi itu memang wajar — ada uang klien dan nama studio. Tapi taruhan tinggi nggak otomatis bikin tegang. Yang bikin tegang: nggak ada yang tahu apa yang terjadi setelah seseorang miss.
Rantai yang biasanya jalan
Menjaga vibe tetap enak bukan hal yang bersaing dengan kualitas output. Itu justru syaratnya. Tim yang tegang menyembunyikan masalah, dan masalah yang disembunyikan yang merusak project.
Targetnya bukan nol ketegangan — sebagian tekanan memang perlu. Targetnya: tegangnya nempel ke masalahnya, bukan ke orangnya.
Begitu ada miss dari tim
Effort: Rendah Impact: Tinggi
Vibe satu project ditentukan di sepuluh menit setelah miss pertama. Kalau di situ nadanya mencari orang, sisa project akan dikerjakan dengan rem tangan ditarik.
Ini bukan soal jadi lembek. Standarnya tetap tinggi — yang berubah cuma arah tekanannya: ke proses yang membiarkan miss itu lolos, bukan ke orang yang kebetulan memegangnya terakhir.
Protokol sepuluh menit itu penanganan. Tiga hal ini yang bikin penanganannya jarang dibutuhkan.
Miss yang ketahuan hari ke-3 harganya kecil. Miss yang sama ketahuan hari ke-20 bisa merusak project. Jadi: review internal lebih sering dan lebih awal, checkpoint kecil, dan biasakan menunjukkan kerjaan yang masih mentah.
Yang menurunkan biaya miss bukan “lebih hati-hati” — itu justru bikin orang melambat dan menyembunyikan. Yang menurunkan biayanya: lebih cepat ketahuan.
Tiap miss dicatat di satu tempat sebagai celah proses, bukan sebagai insiden orang. Formatnya: apa yang kelewat · di tahap mana · apa yang bisa menangkapnya lebih awal.
Tiap bulan lihat polanya. Kalau miss yang sama muncul tiga kali, itu bukan orangnya yang ceroboh — itu checklist kita yang bolong.
Tiap revisi datang dengan alasan, bukan cuma instruksi. Kalau alasannya nggak ada, lead yang menanyakan ke klien — sebelum diteruskan ke desainer.
Plus: sebut minimal satu hal yang berhasil di tiap review. Review yang isinya 100% koreksi adalah cara tercepat bikin orang benci project.
Ditambah health check di 50% timeline: tiga pertanyaan anonim skala 1–5 — aku tahu yang harus kukerjakan · aku punya ruang bikin ini bagus · bebanku masuk akal. Pertanyaan kedua itu alat ukur vibe yang paling jujur.
Soal ide share eksperimen ke sosmed
Bangun komunitas itu strategi marketing, bukan sumber fun. Begitu ada target angka follower, dia berubah jadi kerjaan.
Usulan: pisahkan keduanya. Friday Lab = fun, tanpa target. Sosmed = distribusi dari Friday Lab — satu owner, dua post per minggu, evaluasi setelah tiga bulan.
AI
Dari eksperimen personal jadi kapabilitas tim.
AI Fluency Map — satu tabel, diisi 15 menit, jadi dasar semua keputusan lain di topik ini. Effort: Rendah Impact: Tinggi
| Kapabilitas | Level 0 | Level 1 | Level 2 | Level 3 |
|---|---|---|---|---|
| Ideation & moodboard | Belum pernah | Pernah coba | Pakai rutin | Bisa ngajarin |
| Image generation | Belum pernah | Pernah coba | Pakai rutin | Bisa ngajarin |
| UI gen & prototyping | Belum pernah | Pernah coba | Pakai rutin | Bisa ngajarin |
| Riset & sintesis | Belum pernah | Pernah coba | Pakai rutin | Bisa ngajarin |
| Otomasi workflow | Belum pernah | Pernah coba | Pakai rutin | Bisa ngajarin |
Baris = kapabilitas, kolom = level, sel diisi nama. Update tiap kuartal. Yang level 3 otomatis jadi pengajar untuk kapabilitas itu.
Satu file per konteks, versioned, satu repo dengan Workflow Atlas. Ini yang bikin output AI konsisten antar orang — bukan siapa yang paling jago nulis prompt.
Bagian “di mana gagalnya” wajib. Tanpa itu ini jadi ajang pamer, bukan transfer skill.
Research
Riset yang tetap jalan walau task lagi padat.
Menjawab “dedicated team”
Effort: Rendah Impact: Tinggi
Tim seukuran studio nggak punya headcount untuk orang yang cuma riset. Yang realistis: rotasi research owner.
Kenapa rotasi: orang khusus jadi silo, dan pengetahuannya nggak pernah masuk ke tim. Rotasi juga mencegah burnout di orang yang sama.
Aturan baru: tiap riset punya satu pertanyaan yang bisa dijawab, deadline, dan bentuk output.
“Riset AI video”
“Tool AI video mana yang bisa produce 15-detik product loop di bawah 30 menit?”
| Tingkat | Durasi | Dipakai untuk | Output |
|---|---|---|---|
| Quick scan default | 2 jam | Satu pertanyaan spesifik | 5 bullet di channel |
| Deep dive | 1 hari | Eksplorasi terstruktur | 1 halaman + rekomendasi |
| Deep work | 1 minggu | Keputusan besar: adopsi tool, pivot workflow | Presentasi ke tim |
Default-nya Quick scan. Naik tingkat hanya kalau ada alasan yang bisa disebutkan.
Field confidence itu yang paling penting. Riset cepat dengan AI menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan padahal tipis — menandainya mencegah temuan lemah dipakai untuk keputusan besar.
Aturan praktis: apapun yang masuk ke deliverable klien atau keputusan strategis, cek ke sumber primer.
Kalau dijalankan terpisah, keempatnya jadi empat beban baru. Kalau disambung, satu ritual menghasilkan empat output.
Satu slot Jumat, empat masalah tersentuh. Ini alasan kenapa Friday Lab jadi kandidat prioritas nomor satu.
Yang di kotak “tunda” bukan ide jelek — ketiganya butuh bahan yang belum ada. LMS butuh playbook, produk digital butuh bukti pakai internal, komunitas butuh stok konten.
Apa yang tidak kita kerjakan kuartal ini sama pentingnya dengan apa yang kita kerjakan.
Mana yang salah, mana yang kurang, mana yang kita coret?
ELUX SPACE · RETRO Q3 2026